20070909

Gebrakan ke-2 Anthurium

Gebrakan ke-2 Anthurium

Gebrakan ke-2 Anthurium

Inilah aktivitas YB Hariantono setiap akhir pekan sejak setahun silam. Di nurseri seluas 16 m x 25 m, Senior Vice President Head Information Technology Bank Permata itu merunduk-runduk ke bawah rak bambu setinggi 70 cm. Di bawah rak, satu per satu bibit Anthurium hookeri dan garuda dicek. Bila media terlihat kering, segera sprayer di tangan dikocok supaya mencucurkan air. Daun yang kusam dilap dengan tangan. Sedikit saja posisi pot miring, buru-buru dibenahi. Maklum, dari perniagaan anggota famili Araceae itu, Hariantono meraup omzet minimal Rp30-juta pada Mei 2007.

Nilai nominal jutaan rupiah itu hasil penjualan 200-300 pot hookeri berbatang merah setinggi 25 cm dengan 6-7 daun. Itu belum termasuk pendapatan dari perniagaan hookeri dan jenmanii remaja seharga Rp3,5-juta-Rp4-juta per pot. Pundi-pundi alumnus Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya itu kian tebal bila ratusan bibit hookeri dan garuda dengan 2-3 daun seukuran kuku di bawah rak mulai dipasarkan.

Aktivitas tak biasa pun dilakukan Tjatur Heru Purnomo di Bekasi. Setiap pagi pada akhir pekan, Deputy Administration Manager Mitsubishi Heavy Industries itu bersama istri sibuk mengelap daun-daun jenmanii, keris, hookeri, dan wave of love. 'Tidak dilap sehari saja jadi kusam,' kata alumnus Teknik Informatika Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta itu. Botol-botol berisi larutan fungisida dan insektisida rutin disemprotkan ke tanaman. Harap mafh um, omzet bisnis perniagaan tanaman asal Amerika Selatan dari halaman rumah melesat dari Rp8,6-juta menjadi lebih dari Rp100-juta dalam 8 bulan.
Pemain baru

Penelusuran Trubus ke berbagai daerah, dalam kurun kurang dari setahun bermunculan Hariantono-Hariantono dan Tjatur-Tjatur baru. Di Sawangan, Depok, Destika Cahyana, wartawan Trubus, bertemu Indra Gunawan. Ayah 2 anak itu pada Oktober 2006 menjual seperangkat alat sound system-perlengkapan bisnis penyewaan sistem suara-senilai Rp40-juta. Dari jumlah itu, Rp30-juta dicemplungkan untuk memborong induk-induk anthurium. Sisanya dipakai membangun rumah tanam sederhana berukuran 16 m x 12 m.

Pada Januari 2007, mantan koki restoran di Amerika Serikat itu sukses menjual 40 pot jenmanii, masing-masing Rp20-juta. Dari pengalaman itu, Indra mengambil kesimpulan, 'Berbisnis tanaman hias itu menguntungkan.' Pantas bila jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila itu kian getol memburu anthurium.

Di daerah Pondokkacang, Tangerang, Hj Des Dartiman memutuskan membelokkan rencana membuka minimarket menjadi nurseri anthurium. Tiga bulan terakhir omzetnya Rp20-juta per bulan. Pemain baru lain, Ani Hariani-yang bersangkutan enggan disebut namanya-di Jakarta Timur, Arifin (Magelang), Irawan (Kediri), serta Muhammad Kulit dan Sutomo (Lampung).
Hitungan bisnis

Bukan tanpa sebab para pendatang baru itu memainkan bisnis anthurium. Mereka ingin mengikuti jejak sukses para pionir. Nun di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, tepat setahun silam Suryanto dan Rendy Cahyanto mendulang untung besar. Dari induk jenmanii senilai Rp95-juta, ayah dan anak pengusaha toko emas itu memperoleh pendapatan minimal Rp122,5-juta dari penjualan bibit 1 daun pada panen pertama.

Sampai sekarang, induk berumur di atas 25 tahun itu rutin berproduksi. Ditambah 4 induk dewasa lagi, Rendy memanen 1.500-2.000 biji per bulan. Dengan harga bibit 2 daun di tingkat pengepul pada Juli 2007 sebesar Rp100.000-Rp125.000, berarti ada pemasukan ratusan juta rupiah per bulan. Di Karanganyar juga bermunculan pemain-pemain baru. Waktu berkunjung ke nurseri milik Didik Setiawan, salah seorang pionir-di Desa Gerdu, Karangpandan, Evy Syariefa, wartawan Trubus, bertemu Ngadiyo. Pria yang akrab disapa Bawuk itu meninggalkan bisnis jual-beli mobil untuk berdagang anthurium. Di kecamatan lain, Ngargoyoso, Sularjo membangun greenhouse sederhana berdinding bambu berdampingan dengan warung kelontongnya.

'Sekarang ini di Karanganyar setiap rumah penduduk pasti ada greenhouse berisi anthurium,' ujar Hauw Lie, pemain senior di Dusun Pabongan. Rumah-rumah tanam juga bermunculan di kabupaten-kabupaten tetangga. Sebut saja Semarang dan bahkan meluas ke Kudus, Magelang, Wonosobo, dan Tegal.

Di berbagai daerah, banyak pemain tanaman hias mengarahkan setir ke anthurium. Sekadar menyebut contoh Liling Watiasita di Sleman, Yogyakarta; Satibi di Sawangan, Depok; Drs Ambri di Tangerang; dr Darwis Nasution di Jakarta, serta Fitri Yanti Sitepu dan Adil Barus di Medan. Dua yang disebut pertama dikenal sebagai pemain anggrek. Ambri semula banyak bermain adenium, Darwis juragan aglaonema. Sementara Yanti dan Adil importir aglaonema dan euphorbia.
Semua segmen

Toh, mereka yang bermain belakangan juga ikut mencicipi berkah. Di Kranjan, Ambarawa, Djoko Pranoto menjual 200 biji jenmanii per hari. Dengan harga berlaku pada awal Juli 2007 sebesar Rp40.000-Rp50.000, berarti pendapatannya minimal Rp8-juta per hari. Penjualan anthurium di nurseri Vanditia-milik Ita, sapaan Liling Watiasita-menduduki peringkat ke-2 di bawah anggrek. Di Tangerang, Handhi-lebih dikenal sebagai pemain adenium-meraup omzet jutaan rupiah. Omzet di nurseri milik Hariantono pun berlipat 10 kali.

Hampir semua segmen laris. Sepanjang Mei-Juni 2007, Kurniawan Djunaedi di Tangerang menjual 3 truk berisi tanaman induk 3 kali seminggu setara 200 indukan dengan harga Rp8-juta-Rp35-juta per tanaman. Indra Bandjardjaja di Bogor rutin menjual 1.000 biji, 3.000 bibit 2-3 daun, dan 5-30 pot indukan per bulan.

Jenis yang paling dicari jenmanii karena dianggap gagah dan punya banyak varian yang cantik-cantik. Contohnya kobra yang alur urat daunnya seperti kepala kobra, jaipong dengan posisi daun seperti orang menari, dan mangkuk yang membulat. Yang disebut pertama jadi lambang prestise di kalangan pencinta anthurium. Joe Kok Siong di Yogyakarta boleh dibilang salah satu 'raja' kobra. Pengusaha jamu pelangsing itu pernah mengoleksi 40 pot. 'Raja' lain, A. Chrisanto di Muntilan yang sempat punya 60 pot.

Namun, belakangan jenis-jenis bernuansa hitam, mutasi-bentuk daun berbeda, warna variegata-juga jadi incaran. 'Mungkin orang bosan dengan warna anthurium yang melulu hijau,' kata Gunawan Widjaja. Sebut saja anthurium burgundy koleksi Joe Kok Siong. Sulitnya mencari jenmanii membuat orang mencari alternatif. Yang 'beruntung', Anthurium hookeri. Buat para pemain, inilah gebrakan kedua anthurium pascatren 2006.
Kilas-balik

Pada 2006, laceleave pun membuat mata para pemain tanaman hias terbelalak. Hauw Lie ingat, sebelumnya harga bibit jenmanii 2 daun paling Rp2.000-Rp3.000. Pada pertengahan 2006 harga meroket hingga Rp70.000 per bibit. Volume penjualan pun meningkat. Hadi Sumarna, pemain tanaman hias sejak 17 tahun silam di Sawangan, Depok, menjual 400 jenmanii remaja dan dewasa selama pameran tanaman hias di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Dari perniagaan selama 1 bulan itu Ade-sapaannya-meraup laba Rp100-juta.

Di Ciawi, Bogor, 120 pot hookeri, sirih, dan wave of love dewasa koleksi dr Purbo Djojokusumo ludes. 'Padahal sebelum ini boro-boro laku,' tutur mantan dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanegara, itu.

Kerabat philodendron itu memang pernah beberapa kali populer. Gunawan Widjaja menyebut era 1990-an. Iwan Hendrayanta-ketua Perhimpunan Florikultur Indonesia mengatakan 1987-1992. Dari pengalaman Ir Sugiono Budhiprawira, 'Tren anthurium berulang setiap 5 tahun.' Namun, kejadiannya hanya sesaat, paling hitungan bulan. Pemainnya segelintir kolektor dan pedagang.

Makanya diprediksi tren 2006 juga hanya seumur jagung. Dugaan itu terbukti meleset. Hingga 2007 bisnis anthos oura malah kian menggurita. Dibanding awal tren pada 2006, Gunawan Widjaja menyebut kenaikan permintaan 10 kali lipat. Pada pameran di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Juli 2007, Suwandi Tahir-pemain di Bogor-panen raya. Aseng-panggilannya-menjual 200 bibit jenmanii 2 daun seharga Rp150.000 per pot, 150 bibit 3 daun (Rp250.000/pot), dan 50 bibit remaja (Rp1-juta/pot).

Peningkatan penjualan diiringi kenaikan harga. Anthurium bintang kejora terdiri dari 20 daun pada 2004-2005 harganya Rp2-juta-Rp3-juta. Sejak Januari 2007 menjadi Rp6-juta. Bila yang ditawarkan jenis mutasi, harga lebih spektakuler.
Bukan pertanian

Bibit jenmanii variegata sebesar kuku jempol milik Aries Andi di Yogyakarta dibandrol Rp2,5-juta per daun. Namun, rekor harga tertinggi dipegang jenmanii kobra. Sepot indukan dengan 4 spadiks siap panen dilepas dari nurseri di Yogyakarta senilai aglaonema harlequeen-aglaonema termahal. Mengikuti istilah Joe Kok Siong, induk dengan biji siap panen itu sebagai mesin uang. Masuknya pemodal-pemodal besar ikut mendongkrak tren. 'Tren anthurium tidak lepas dari bisnis tanaman hias secara keseluruhan yang tengah marak,' kata Gunawan Widjaja dan Iwan Hendrayanta senada. Ketika bisnis barang kelontong, baju, dan jasa angkutan semakin ketat, pemainnya mencoba-coba bisnis lain: tanaman hias.

Maka bermunculanlah nama-nama pemilik pasar swalayan, pengusaha bus, pemilik perusahaan otomotif, pejabat tinggi bank swasta, serta pemain satwa hias dan ikan hias menggelontorkan dana untuk membangun greenhouse. Di dalam greenhouse, induk-induk jenmanii siap jadi tambang uang.
Impian laba

'Sekitar 80% pemain baru kini tujuannya untuk bisnis,' tutur Didik Setiawan. Siapa tidak tergiur mendengar pengalaman Hauw Lie. Sepanjang 4 bulan di awal 2007, mantan sales selama 15 tahun itu minimal menjual 60.000 bibit 2 daun seharga Rp22.500 per bibit. Artinya, dalam hitungan bulan pemilik nurseri Gracia itu jadi miliader.

Pasar yang meluas membuat para pemain kian yakin membenamkan investasi. Belantara Flora di Jakarta rutin mengirim ke Banyuwangi di ujung timur Pulau Jawa, serta Nabire dan Manokwari di Papua. Pembeli ke nurseri milik Purbo datang dari Jakarta, Surabaya, Semarang, Lampung, Medan, dan Banjarmasin.

Pemain baru tak gentar karena perawatan juga relatif mudah. Kalaupun dirawat intensif masih menguntungkan. Lagi pula anthurium memang menarik. Ungkapan Proborini Handaka, kolektor dan pebisnis di Temanggung, bisa mewakili keindahan si bunga ekor. 'Anthurium itu macho karena besar dan gagah, tapi juga cantik dengan warna hijaunya yang lembut,' tuturnya.

Dari semua daerah, Karanganyar diakui sebagai pusat utama. Berjo-desa di kaki Gunung Lawu-jadi awal menjangkitnya 'wabah' anthurium. Menurut Dwi Haryanto, lurah terpilih pada Juni 2007, anthurium yang semula bisnis sampingan, kini sumber pendapatan utama.

Itu tak lepas dari dukungan Hj Rina Iriani Sri Ratnaningsih, SPd MHum, sang bupati. 'Kalau ke Afrika orang mencari berlian sebagai cenderamata, saya ingin orang ke Karanganyar mencari anthurium,' ujar bupati. Tak segan-segan Rina Iriani mengucurkan kredit Usaha Kecil Menengah (UKM). Obsesi itu didukung kondisi iklim Karanganyar yang pas buat pertumbuhan anthurium.
Amblas

Namun, tak selamanya bisnis anthurium manis. Pencurian jadi musuh utama. Baru 3 bulan menekuni laceleave, musibah sudah menghampiri Sularjo. Sekitar 97 bibit jenmanii terdiri dari 6-8 daun digondol maling. Dengan kisaran harga jual Rp300.000-Rp350.000, ia merugi Rp29-juta-Rp34-juta. Kerugian lebih besar dialami Sugiono. Hanya dalam semalam induk-induk di kebun senilai Rp250-juta hilang.

Pantas Hasyim Muhammad di Ciputat, Tangerang, meninggalkan anthurium. Lima puluh pot bibit jenmanii yang kini menyisakan media pakis masih meninggalkan trauma buat mantan karyawan Hotel Sari Pan Pasifi k Riyadh, Arab Saudi itu. Harga tinggi pun bak pisau bermata dua. Di satu sisi membuka peluang keuntungan, di sisi lain membuat pemain sulit memutar barang. 'Kalau kita melepas 1 tanaman, belum tentu kita dapat gantinya. Kalaupun ada harganya sudah lebih mahal,' ujar para pemain sepakat.

Membeli biji seperti berjudi lantaran peluang serupa dengan induk tipis. Anggoro Subakti, kolektor di Jakarta, menyemai 500 biji black beauty, tapi hanya 30-an yang lolos hidup. Itu pun tidak serupa induk. Para pionir sejak era 80-an mengingatkan kemungkinan pasar semu. Saat ini hampir semua pekebun membesarkan bibit berbarengan. 'Nah, nanti pembeli akhirnya siapa?' tanya Gunawan. Sesuai hukum pasar, begitu stok melimpah sementara pasar tidak ada, harga melorot.

Contohnya terjadi pada Oktober-November 2006 di Karanganyar. Harga bibit 1 daun semula Rp80.000, turun hingga Rp11.000. Musababnya para pekebun berebut menjual barang. 'Tujuannya mendapat uang kas dengan cepat karena anthurium dianggap barang likuid,' tutur Didik dan Hauw Lie senada. Hasil penjualan jenmanii dipakai untuk memenuhi kebutuhan hari raya. Padahal, konsumen baru seputaran Karanganyar dan Solo. Terjadilah perang harga yang membuat nilai anthurium anjlok.
Prediksi

Meski demikian, para pemain tak gentar. Anthurium tumbuh lamban, perbanyakannya pun terbatas. Makanya tanpa produksi massal, harga bakal stabil. Apalagi bisnis anthurium itu urusan hati. 'Sekarang ini semakin banyak orang stres. Tanaman hias-salah satunya anthurium-jadi obatnya,' tutur Rina Iriani. Para kolektornya setuju dengan pernyataan itu. Buat Budi Tjahjana-pemilik perusahaan organda Ramayana, anthurium itu unik karena tidak ada yang bentuknya sama persis.

Untuk mengantisipasi produksi massal dari negara lain, Rina Iriani memesan alat kultur jaringan. 'Sebelum orang lain yang melakukan, kita dulu yang siap,' tutur bupati. Terus membuka pasar menjadi upaya supaya bisnis anthurium tak melorot. Pasar luar daerah-lah yang membuat bisnis anthurium ajek dari 2006-2007.

Jack Hamzah, kolektor sejak 1980-an, memprediksi tren bertahan hingga 2009. Komentar Anggoro Subakti bisa jadi penguat keyakinan. 'Kalau dulu tanaman hias hanya jadi mode seperti fesyen, sekarang sudah jadi gaya hidup,' tutur hobiis tanaman hias sejak 25 tahun silam itu. Kini pilihan itu ada pada anthurium. (Evy Syariefa/Peliput: A. Arie Raharjo, Destika Cahyana, Dian A Susanto, Dyah Pertiwi Kusumawardani, Hermansyah, Imam Wiguna, Lani Marliani, Lastioro A Tambunan, Kiki Rizkika, Nesia Artdiyasa, dan Sardi Duryatmo)
Peluang Bisnis dan Peluang Usaha Halal Di Indonesia

No comments:

Keliling Dunia Lewat Bisnis dari Rumah